Panduan Sunnah dalam Memilih Bacaan Surat Setelah Al Fatihah di Dalam Shalat

Panduan Sunnah dalam Memilih Bacaan Surat Setelah Al Fatihah di Dalam Shalat

Panduan Sunnah dalam Memilih Bacaan Surat Setelah Al Fatihah di Dalam Shalat

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ustadz pengasuh konsultasifiqih.com yang kami muliakan… Saya ingin bertanya.. Adakah panduan dalam membaca surat Alquran di dalam shalat kita terutama pada shalat lima waktu sesuai dengan Sunnah Nabi Saw? Terima kasih sebelum dan sesudahnya

Wassalam

Hamba Allah

Jawaban:

Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah atas pertanyaan penting ini. Terlebih lagi terkait dengan shalat yang merupakan ibadah dalam keseharian kita.

Yang kita lakukan di dalam shalat terdiri dari tiga bagian:

Pertama: Rukun yang tiga belas. Tidak boleh tertinggal satupun. Jika tertinggal dalam satu rakaat maka rakaat tersebut tidak dihitung.

Kedua: Sunnah Ab’adh. Seperti: qunut, duduk tahiyat awal, bacaan tahiyat awal, selawat kepada Nabi Saw pada tahiyat awal, selawat kepada keluarga Rasulullah Saw pada tahiyat akhir. Jika tertinggal hendaknya dilakukan sujud sahwi sebelum salam.

Ketiga: Sunnah Hai-ah. Yaitu seluruh perbuatan dan ucapan dalam shalat kita yang terdapat anjurannya selain rukun dan Sunnah Ab’adh. Jika tertinggal tidak perlu sujud sahwi karena tidak terdapat anjuran sujud sahwi. Seperti: meletakkan kedua tangan ketika berdiri di bawah dada di atas pusat, bacaan doa iftitah, bacaan surat setelah Al Fatihah dan lainnya.

Dengan demikian dapat kita fahami bahwa membaca surat setelah Al Fatihah bukan Rukun atau Sunnah Ab’adh yang bermasalah jika ditinggalkan. Namun demikian mukmin yang cerdas senantiasa berusaha melakukan sesuatu mengikut Sunnah Nabi Saw terutama terkait shalat yang kita diperintahkan:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. (HR. Al Bukhari).

Berikut beberapa panduan membaca surat dalam shalat lima waktu:

Dianjurkan pada shalat Shubuh membaca at-Thiwal al-Mufasshal (dari surat al-Hujurat hingga surat an-Naba), dan pada shalat Zhuhur membaca bacaan yang panjangnya dekat dengan bacaan di waktu Shubuh. Selanjutnya di waktu Ashar dan Isya membaca Awsath al-Mufasshal (dari surat an-Naba’ hingga surat ad-Dhuha). Dan pada Maghrib membaca al-Qishar al-Mufasshal (yaitu dari ad-Dhuha hingga ke an-Nas).

Hikmah memanjangan bacaan pada shalat Shubuh karena shalat Shubuh hanya dua rakaat. Adapun Maghrib waktunya singkat karena itu dianjurkan membaca surat yang pendek. Zhuhur, Ashar dan Isya waktunya panjang namun bacaan shalat Zhuhur lebih sedikit panjang di bandingkan dengan Ashar dan Isya. Bacaan Zhuhur sedikit lebih pendek dari bacaan Shubuh karena Zhuhur waktu Qailulah.

Dalil dari semua itu adalah riwayat yang terdapat di dalam sunan an-Nasa-I pada hadis no. 982, juz II, hal. 167:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: «مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلَاةً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فُلَانٍ – قَالَ سُلَيْمَانَ – كَانَ يُطِيلُ الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ، وَيُخَفِّفُ الْأُخْرَيَيْنِ، وَيُخَفِّفُ الْعَصْرَ، وَيَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ، وَيَقْرَأُ فِي الْعِشَاء بِوَسَطِ الْمُفَصَّلِ، وَيَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ بِطُوَلِ الْمُفَصَّلِ»
Dari Abu Hurairah Ra ia berkata: Tidak pernah saya shalat di belakang seorang imam yang mirip shalatnya dengan Rasulullah Saw dari pada shalatnya si fulan (yaitu Sulaiman bin Yasar), ia memanjangkan dua rakaat pertama pada shalat Zhuhur dan meringankan pada dua rakaat terakhir, meringankan shalat Ashar, membaca Qishar al-Mufasshal pada shalat Maghrib, membaca Wasath al-Mufasshal pada shalat Isya dan membaca Thul al-Mufasshal pada shalat Shubuh. (Hadis ini dishahihkan oleh imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ juz III hal 345-346).

Imam an-Nawawy dalam kitab al-Majmu’ mengatakan: “Yang kami katakan dianjurkan membaca Thiwal al-Mufasshal dan Awsath al-Mufasshal adalah jika makmum memilih yang demikian halnya dan jumlah makmum terbatas kepada mereka saja, adapun jika tidak semua makmum setuju maka hendaknya imam meringankan bacaannya”. (Al-Majmu’ syarh al-Muhadzzab juz III, hal. 349).

Beliau juga mengatakan: “Perbedaan ukuran bacaan dalam hadits-hadits yang diriwayatkan berkaitan dengan kondisi yang ada. Rasulullah Saw mengetahui kondisi para makmum ketika mereka ingin panjang sehingga beliau panjangkan, dan waktu yang para makmum tidak ingin panjang baik karena uzur atau sebab yang lain sehingga beliau ringankan. Dan adakalanya beliau hendak memanjangkan bacaan namun beliau mendengarkan suara tangisan anak kecil sebagaimana terdapat dalam shahihain, wallahu a’lam”. (Al-Majmu’ syarh al-Muhadzzab juz III, hal. 348).

Anjuran bacaan surat pada shubuh dan malam Jumat:

Dianjurkan membaca surat as-Sajadah pada rakaat pertama dan surat al-Insan pada rakaat kedua. Dan boleh membaca pada sebahagian dari kedua surat tersebut walau hanya pada ayat as-Sajadah dengan tujuan untuk sujud tilawah. Dan boleh baginya beralih kepada surat al-A’la dan surat al-Ghasyiyah. Jika tidak, boleh juga baginya membaca surat al-Kafirun dan suat al-Ikhlas.

Dianjurkan pada shalat Isya malam Jumat membaca surat al-Jumuah di rakaat pertama dan surat al-Munafiqun di rakaat kedua.

Wallahu A’lam bis Shawab

Comments

comments

Add Comment