-Fikih Fikih Ibadah

Takbir Hari Raya: Waktu dan Lafalnya

Hari raya adalah hari mengingat Allah Swt. Dengan sebanyak-banyaknya. Diantar zikir yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak adalah Takbir.

Takbir pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha terbagi kepada dua:

1. Takbir Mursal, yaitu: takbir yang tidak terikat dan terkait dengan suatu kondisi, seperti takbir yang dikumandangkan di rumah, masjid, jalanan, pasar baik pada malam maupun siang hari.

2. Takbir Muqayyad, yaitu: takbir yang dikumandangkan setiap selepas shalat fardhu.

Baik takbir Mursal maupun Muqayyad dianjurkan di kedua hari raya tersebut. Namun terkait permulaan waktunya menurut pendapat yang kuat adalah permulaan takbir pada Idul Fitri yaitu ketika tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan. Dan terkait waktu berakhir takbir menurut pendapat terkuat adalah dengan Takbiratul Ihram imam pada shalat Idul Fitri.

Dianjurkan kaum muslimin di waktu tersebut untuk terus memperbanyak takbir secara jahar (dengan mengangkat suara mereka dalam batasan yang wajar), baik ketika di rumah, di pasar, di masjid, di jalanan dan lainnya, baik dalam kondisi musafir atau tidak. Kecuali jamaah haji di malam Idul Adha, zikir mereka adalah Talbiyah. Mengangkat suara dengan takbir merupakan salah satu syiar kaum muslimin di kedua hari raya tersebut.

Imam Al Bukhari dalam shahihnya jilid 2, hal. 20 meriwayatkan:

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ «يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الأَيَّامَ، وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ، وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الأَيَّامَ جَمِيعًا» وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ: «تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ» وَكُنَّ «النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ، وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ العَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي المَسْجِدِ»

“Adalah Umar r.a. bertakbir di dalam kemahnya ketika di Mina (dengan suara keras), sehingga orang-orang yang sedang di masjid mendengarkannya lalu mereka ikut bertakbir, begitu pula orang-orang yang sedang di pasar sehingga Mina bergemuruh dengan suara takbir.”

Dan adalah Ibnu Umar bertakbir pula di Mina pada hari-hari Tasyriq setiap selepas shalat, seperti saat berada di atas tempat tidurnya, di kemahnya, di setiap majlisnya, dan juga dalam perjalanannya pada seluruh hari Tasyriq. Demikian pula Maimunah isteri Rasulullah saw. bertakbir pada hari raya qurban, para wanita ikut bertakbir di belakang Aban bin Utsman, Umar bin Abdul Aziz bersama kaum lelaki pada malam-malam Tasyriq di masjid”.

Walau takbir di kedua hari raya merupakan amalan Sunnah, namun para ulama mengatakan bahwa takbir malam Idul Fitri lebih kuat, sebagaimana Allah Swt. berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ

“Agar mereka menyempurnakan bilangan Ramadhan dan bertakbir membesarkan Allah “. (QS. Al Baqarah: 185).

Sehingga ada ulama yang mengatakan bahwa Takbir Idul Adha Sunnah, sedangkan takbir pada Idul Fitri hukumnya wajib, demikian menurut pendapat Sa’id bin Al Musayyib, Urwah bin Az Zubair dan Daud Az Zhahiri. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan keduanya berhukum Sunnah.

Pada Idul Adha takbir Muqayyad lebih kuat berdasarkan Ijma’ Ulama daripada takbir Muqayyad pada Idul Fitri. (Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzzab, jilid 5, hal. 38-39 dan 48).

Adapun terkait permulaan waktu takbir Muqayyad pada Idul Adha adalah:

1. Bagi Jemaah haji, mereka memulai takbir selepas shalat Zhuhur pada hari raya Idul Adha, sebab Talbiyah merupakan zikir mereka hingga memulai lontaran Jamrah ‘Aqabah, dan akhir masa bagi mereka bertakbir adalah shalat Shubuh di hari akhir Tasyriq yaitu 13 Zulhijjah.

2. Bagi yang tidak berhaji maka hendaknya mereka bertakbir dari setelah shalat Shubuh hari Arafah hingga selepas shalat Ashar pada hari tasyriq terakhir, yaitu: dari shubuh 9 Zulhijjah hingga Ashar 13 Zulhijjah. Maka dengan demikian terdapat 23 waktu shalat fardhu yang dianjurkan bertakbir setelahnya. (Ibid, hal. 40).

Hal ini berdasarkan beberapa dalil, diantaranya:

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Umar r.a.:

كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غداة عرفة، فمنا المكبر ومنا المهلل، فأما نحن فنكبر

“Adalah kami bersama Rasulullah saw. di pagi hari Arafah. Diantara kami ada yang bertakbir dan diantara kami ada yang bertahlil. Adapun kami lebih memilih Takbir”.

Imam Al Baihaqi juga meriwayatkan demikian dari Umar bin Al Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas r.a., bahwa mereka bertakbir dari Shubuh hari Arafah hingga Ashar hari Tasyriq yang terakhir.

Imam Al Hakim juga meriwayatkan dari Ali dan Ammar r.a., bahwa Nabi saw.:

كان يجهر في المكتوبات ببسم الله الرحمن الرحيم، وكان يقنت في صلاة الفجر، وكان يكبر يوم عرفة من صلاة الصبح، ويقطعها صلاة العصر آخر أيام التشريق.

“Adalah Rasulullah saw. menjaharkan bacaan Bismillahirrahmanirrahim pada shalat fardhu, dan beliau berqunut pada shalat Shubuh, bertakbir pada hari Arafah dari shalat Shubuh, dan berakhir takbir beliau pada shalat Ashar hari terakhir Tasyriq”.

Terkait waktu takbir pada Idul Adha tersebut merupakan mazhab Jumhur ulama, yaitu: Syafi’iyah, Hanabilah, Abu Yusuf dan lainnya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa takbir Idul Adha hanya dari Shubuh hari Arafah dan berakhir waktu Ashar hari Nahar yaitu 10 Zulhijjah. Sedangkan imam Malik berpendapat bahwa takbir Idul Adha bermula dari Zhuhur hari Nahar (10 Zulhijjah) hingga Shubuh hari Tasyriq yang terakhir. (Ibid.,, jilid 5, hal.46).

Lafal Takbir

Lafal takbir yang dianjurkan adalah:

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

Demikian dalam mazhab As Syafi’i dan Maliki. Adapun tambahan selebihnya adalah kebaikan. Imam As Syafi’i menyukai tambahan berikut ini:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً،وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعَدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Dan tidak mengapa bertakbir dengan yang biasa kita dengar dengan lafal berikut ini:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bahkan takbir dengan lafal inilah yang disebutkan oleh imam An Nawawi diriwayatkan dari Umar bin Al Khattab dan Abdullah bin Mas’ud, dan ini pula yang dipilih oleh Syafi’iyah, Hanafiyah, Hanabilah. (Al Majmu’, jilid 5, hal. 47).

Sedangkan lafal Takbir dari Ibnu Abbas adalah sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً،اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً، اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ، اللهُ أَكْبَرُوَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Dan yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar adalah sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شِيْءٍ قَدِيْرٌ

Manapun takbir yang dipilih adalah baik, sebab diamalkan oleh salafunasshaleh. Namun tentu yang diriwayatkan oleh Jumhur lebih utama. Wallahu A’lam.

Comments

comments

Tentang Penulis

Dosen IAIN Langsa, Doktoral Fiqh Muqaran (Perbandingan Mazhab Fikih) di Universitas Al Azhar - Mesir, Mudir dan Ketua Yayasan Pesantren Dar Faqih Qurani - Aceh Timur, Dewan Fatwa Nasional Jami'ah Al Wasliyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.