Inilah Amalan Utama dan Sejarah Kemuliaan Bulan Muharram

keutamaan-bulan-muharam

Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah pada bulan Allah Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”.
(HR. Muslim, bab Keutamaan puasa Muharram, no. 1163)

Muharram ini sudah menginjak hari kelima. Belum adakah semangatmu tumbuh untuk melakukan amalan-amalan utama?

Bagi sebagian kita, mungkin sudah ada yang puluhan kali diberi izin oleh Allah swt Yang maha Pengasih dan Pemurah untuk bertemu dengan bulan yang di dalamnya kebaikan dan pahala melimpah ruah. Bulan di mana pahala kita dilipatgandakan olehnya. Andai hati kita tak sekeras batu, mungkin tak lagi akan mampu membendung air mata haru atas karunia hebat yang Allah beri di masa ini.

Adalah rahmat dan hikmah dari Allah swt, yang telah melebihkan sebahagian masa dibanding masa yang lainnya. Kadang ada masa di mana berdoa di dalamnya jauh lebih mustajab. Kadang ada masa di mana berpuasa di dalamnya jauh lebih besar fadhilahnya. Kadang ada masa di mana shalat satu rakaat di dalamnya, berbanding dengan ratusan ribu rakaat di waktu yang lainnya. Hamba yang pandai bersyukur dan jeli dalam menyibak tabir hikmah, akan bermujadahah menghidupkan masa-masa istimewa ini dengan rangkaian ibadah.

Keutamaan Bulan-bulan Haram

Mungkin belum begitu familiar dan bahkan seringkali kita lupakan, bahwa dari dua belas bulan hijriyah, empat di antaranya adalah bulan haram. Bulan-bulan pilihan yang Allah swt muliakan karena keistimewaannya.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. (QS. At Taubah ayat: 36).

4 bulan haram tersebut dijelaskan oleh Rasulullah saw. yaitu: Zulqa’idah, Zulhijjah dan Muharram secara berturut-turut, dan yang terpisah adalah Rajab. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abi Bakrah).

Dalam kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir 4/748 disebutkan bahwa kelebihan empat bulan tersebut adalah bahwa sebagaimana kebaikan yang dilakukan di tanah Haram dilipatgandakan oleh Allah Swt, demikian pula kejahatan dan dosa yang dilakukan juga dilipatgandakan oleh Allah swt. Bulan Haram demikian pula halnya.

Ibnu Abbas mengatakan: Firman Allah Swt dalam surat at Taubah tentang larangan melakukan kezhaliman pada sepanjang masa, kemudian Allah Swt khususkan pada empat bulan tersebut yang jadikan bulan tersebut sebagai bulan Haram, merupakan tambahan kehormatan bulan-bulan tersebut, sehingga kejahatan yang dilakukan di dalamnya lebih besar dosanya dari jejahatan yang dilakukan di bulan yang lain sebagaimana halnya amal shaleh di dalamnya juga lebih besar pahalanya dibandingkan dengan bulan yang lain. (Tafsir Ibnu Katsir 4/148).

Tatkala Muharram sudah menyambangi kita, maka alangkah baiknya bagi kita untuk mengenal sebagian dari keistimewaan yang Allah swt berikan di dalam bulan ini.

Keutamaan Bulan Muharram

Muharram adalah salah satu dari bulan-bulan haram empat yang agung. Untuk ibadah puasa sebagian ulama mengatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)

Artinya: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah pada bulan Allah Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim, bab Keutamaan puasa Muharram, no. 1163)

Dengan demikian dari hadits tersebut dapat difahami bahwa bulan Muharram seluruhnya terdapat anjuran untuk melaksanakan puasa sunnat. Tanpa ada kemestian memilih hari Asyuranya saja.

Selanjutnya sebaik-baik Muharram adalah 10 hari permulaannya. Ibnu Rajab al Hanbali mengatakan: Para Salafush Shaleh mengagungkan 10 hari di 3 bulan: 10 akhir Ramadhan, 10 awal Zulhijjah dan 10 awal Muharram. Dan bahwa Allah swt. berbicara langsung dengan Nabi Musa as. di 10 akhir dari 40 hari munajatnya, dan 10 akhir itu adalah di 10 awal Muharram. (Latha-iful Ma’arif hal 48).

Keagungan Hari Asyura dan Anjuran Berpuasa Di Dalamnya

Di dalam Muharram terdapat hari Asyura yaitu hari kesepuluh, Rasulullah saw. senantiasa menjaga hari tersebut untuk berpuasa.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا اليَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ (رواه البخاري)

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra. ia berkara: “Aku tidak pernah melihat Nabi saw. menjaga puasa sehari yang mulia dari hari ini yaitu hari Asyura”. (HR. Al Bukhari no. 2006).

Diantara hikmah berpuasa di hari tersebut adalah menggugurkan dosa setahun yang berlalu. Rasulullah saw. bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّى أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: “Puasa pada hari Asyura aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa setahun yang telah lalu”. (HR. Muslim, bab Keutamaan puasa Muharram, no. 1162).

Maksud dari diampunkan dosa sebab puasa Asyura adalah dosa-dosa kecil. Sekiranya ia tidak melakukan dosa kecil maka derajatnya akan diangkat oleh Allah swt. semua ini adalah semata-mata karunia murni pemberian dari Allah swt. (Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah 29/220).

Dalam sejarah tasyri’ Islam puasa Asyura juga merupakan puasa fardhu yang pertama disyariatkan dalam Islam:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ،، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ هُوَ الْفَرِيضَةُ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ»

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Adalah hari Asyura hari puasa kaum Quraisy di masa jahiliyah. Rasulullah saw. juga berpuasa pada masa jahiliyah (sebelum menerima wahyu). Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan difardhukan hanya tinggal kewajiban puasa Ramadhan tidak pada Asyura. Bagi yang ingin berpuasa pada Asyura silahkan berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, boleh meninggalkannya”. (HR. Abu Daud no. 2442).

Waktu Puasa Asyura

Berkaitan dengan pelaksanaan puasa Asyura, para ulama menyebutkan tiga tingkatan:

1. Pada hari Asyura saja, inilah sekurang-kurangnya.

2.  Asyura dan Tasu’a, hal ini karena harapan Rasulullah saw. dalam hadits beliau bersabda:

لئن بقيتُ إلى قابل لأصومن التاسع (عن ابن عباس رواه مسلم)

Artinya: “Sekiranya aku hidup hingga tahun depan niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas ra).

Ibnu Abbas ra. mengatakan: belum sampai tahun berikutnya Rasulullah saw. telah terlebih dahulu wafat. (HR. Muslim 4/798). Di kalangan ahli hadits sunnah ini dinamakan dengan Sunnah Hammiyah yaitu harapan yang pernah diucapkan Nabi saw. namun tidak sempat dilaksanakan. Hukumnya tetap berpahala bagi yang melaksanakannya.

Di antara hikmah menyertakan puasa hari kesembilan adalah untuk menjaga dari tersalah dalam penentuan awal tahun hijriyah dan juga untuk berbeda dengan orang Yahudi.

3. Tasu’a, Asyura dan hari 11 Muharram

Yang ketiga ini adalah yang paling sempurna. Dalam hadits dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah saw. bersabda:

“صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا، أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا”.

Artinya: “Berpuasalah pada hari Asyura, dan berselisihlah dengan Yahudi. (Yaitu dengan cara) berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya”. (HR. Ahmad no. 2154 dan Ibnu Khuzaimah no. 2054).

Sebagaimana puasa di hari Sembilan dianjurkan untuk ihtiyath (hati-hati) sebagai menjaga dari tersalah dalam penentuan awal tahun demikian pula halnya dengan puasa pada hari kesebelas. Sebab kesalahan dalam penentuan tahun boleh jadi terlambat atau lebih cepat.

Dan berpuasa pada hari kesembilan dan kesebelas disamping ia adalah sebagai salah satu bentuk perbedaan puasa kita dengan orang Yahudi pada dasarnya bulan Muharram seluruh bulannya dianjurkan berpuasa sebagaimana terdahulu dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Muslim.

Anjuran Menyenangkan Keluarga Pada Hari Asyura

Dalam kitab Fathul ‘Allam 4/118 disebutkan bahwa sebahagian ulama menganjurkan untuk melakukan hal yang dapat membahagiakan keluarga pada hari Asyura, hal ini disebabkan terdapat anjuran langsung dari Rasulullah saw. dalam hadits Abu Hurairah ra:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءِ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

Artinya: “Siapa yang melapangkan bagi keluaganya pada hari Asyura niscaya Allah akan melapangkan baginya sepanjang tahunnya”. (HR. al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/366, dan Ibnu Hibban dalam Al Majruhin 3/97).
Ibnu Uyainah berkata: Kami telah mencobanya sejak 50 tahun atau 60 tahun lalu, tidak kami dapatkan melainkan kebaikan padanya. (Kasyafu al Qina’ 2/339). Ini merupakan salah satu kesaksian dari ulama yang telah mencobanya.

Demikianlah amalan-amalan utama yang hendaknya dilakukan dalam bulan Muharram ini. Namun di luar itu, ada baiknya bagi kita untuk mengetahui sekelumit sejarah yang terkait dengan hari Asyura

Beberapa Sejarah Berkaitan Dengan Hari Asyura

Kemuliaan hari Asyura ternyata kembalinya juga kepada sejarah-sejarah agung yang pernah terjadi di dalamnya, diantaranya:

1. Allah swt. menerima taubat nabi Adam as. pada hari Asyura. Ikrimah mengatakan:

هُوَ يَوْمٌ تَابَ اللَّهُ عَلَى آدَمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ

Artinya: “Hari yang Allah swt. terima taubat Adam as. adalah pada hari Asyura”. (Mushannaf Abdurrazzaq as-Shan’ani, no. 7852).

2. Nabi Nuh as. turun dari kapal beliau pada hari Arafah. Qatadah mengatakan:

رَكِبَ نُوحٌ فِي السَّفِينَةِ فِي رَجَبٍ يَوْمَ عَشْرٍ بَقِينَ، وَنَزَلَ مِنَ السَّفِينَةِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ

Artinya: “Nuh menaiki kapal pada bulan Rajab di sepuluh akhirnya, dan turun dari kapal pada hari Asyura’”. (Mushannaf Abdurrazzaq as-Shan’ani, no. 7849).

3. Nabi Musa as. selamat dari kejaran Firaun juga pada hari Asyura. Ibnu Abbas mengatakan:

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمُ نَجَّا اللَّهُ فِيهِ مُوسَى، وَأَغْرَقَ فِيهِ آلَ فِرْعَوْنَ قَالَ: فَصَامَهُ شُكْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَأَنَا أَوْلَى بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصِيَامِهِ مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

Artinya: “Tiba Rasulullah saw. di Madinah beliau dapatkan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?”, mereka menjawab: Ini adalah hari agung Allah selamatkan Musa di dalamnya dan menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya. Ibnu Abbas berkata: puasa pada hari tersebut sebagai wujud kesyukuran. Maka Nabi saw. bersabda: “Saya lebih layak dengan Musa dan lebih layak berpuasa dari pada kalian. Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa”. (Mushannaf Abdurrazzaq as-Shan’ani, no. 7843).

Tiga sejarah ini sudah sangat cukup menunjukkan betapa agungnya hari Asyura tersebut, terlebih lagi didukung dengan hadits-hadits shahih anjuran berpuasa di dalamnya.

Beberapa Hadits Palsu Tentang Asyura

Berikut ini beberapa hadits palsu yang mungkin beredar di tengah masyarakat kita dan harus kita hindari. Diantaranya adalah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas secara marfu’:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةَ سِتِّينَ سَنَةً بِصِيَامِهَا وَقِيَامِهَا وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشَرَةَ آلافِ مَلَكٍ وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشَرَةَ آلافِ شَهِيدٍ وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ وَمَنْ أفطر عِنْده مُؤمن فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَكَأَنَّمَا أَطْعَمَ جَمِيعَ فُقَرَاءِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَأَشْبَعَ بُطُونَهُمْ وَمَنْ مَسَحَ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ رُفِعَتْ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ عَلَى رَأْسِهِ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ

Artinya: “Siapa yang berpuasa pada hari Asyura, Allah akan catatkannya sebagai ibada enam puluh tahun dengan puasa dan qiyamnya. Dan siapa yang berpuasa pada hari Asyura akan diberikan pahala sepuluh ribu malaikat. Dan siapa yang berpuasa pada hari Asyura diberikan pahala sepuluh ribu syahid. Dan siapa yang berpuasa pada hari Asyura dicatatkan Allah pahala seberat tujuh lapis langit. Siapa yang menyiapkan bukaan puasa bagi seorang mukmin pada hari Asyura seolah-olah ia memberi makan seluruh kaum fakir dari umat Muhammad dan mengenyangkan perut mereka. Dan siapa yang mengusap kepala anak yatim akan ditinggikan derajatnya dengan setiap helai rambut satu derajat di surga”.

فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ فَضَّلَ اللَّهُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ قَالَ نَعَمْ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَالأَرْضَ كَمِثْلِهِ وَخَلَقَ الْقَلَمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَاللَّوْحِ مِثْلِهِ وَخَلَقَ جِبْرِيلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَمَلائِكَتَهُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَلَقَ آدَمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَغَفَرَ ذَنْبَ دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُورَاء وَأعْطى سُلَيْمَانَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَوُلِدَ النَّبِيُّ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَاسْتَوَى الرَّبُّ عَلَى الْعَرْشِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ

Artinya: Berkata Umar: Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah melebihkan hari Asyura. Rasulullah saw. menjawab: “Benar, Allah menciptakan langit pada hari Asyura dan bumi juga serupa. Menciptakan Qalam dan Lauh al Mahfuzh juga serupa. Menciptakan Jibril pada hari Asyura dan para malaikatNya juga pada hari Asyura. Menciptakan Adam pada hari Asyura, mengampuni dosa Daud pada hari Asyura, memberikan Sulaiman pada hari Asyura, dan lahirnya Nabi pada hari Asyura, dan Tuhan beristiwa’ di atas Arsy pada hari Asyura dan hari kiamat juga pada hari Asyura”.

Hadits-hadits ini adalah palsu tidak benar nisbah ucapannya kepada Rasulullah saw. karena di dalam sanadnya ada Habib bin Abi Habib salah seorang pemalsu hadits. Dan hadits ini juga diakui kepalsuannya oleh para ulama hadits seperti: imam as Suyuthi, Ibnu Iraq, Ibnu Hajar, Ibnu al Jauzi dan lain-lainnya. (Al Atsar al Marfu’ah fi al Akhbar al Maudhu’ah karya Abul Hasanat Muhammad Abdul Hayy al Laknawi: juz 1 hal 94-95).

Mudah-mudahan Allah swt. memberikan kita taufiq untuk menghidupkan masa ibadah ini dengan sebaik-baiknya. Mari ajak diri, keluarga dan sahabat… Penunjuk jalan kebaikan mendapatkan pahala dari kebaikan yang dilakukan oleh orang lain tanpa mengurangi pahala pelaku kebaikan itu sendiri.

Wabillahit Taufiq

Comments

comments

Add Comment