Home / Ibadah / Bolehkah Terawih Empat Rakaat Sekali Salam?

Bolehkah Terawih Empat Rakaat Sekali Salam?

Shalat Terawih adalah shalat sunnat yang dianjurkan di malam Ramadhan. Dinamakan terawih sebab para sahabat beristirahat dalam pelaksanaannya sebab panjangnya qiyam (berdiri) mereka dalam membaca ayat dengan hudhur dan khusyuk. Bukan seperti yang dilakukan sebahagian besar di masa kita dengan meringankannya dan berbangga dengannya. (I’anatu At Thalibin, jilid 1 hal. 684).

Dasar anjuran terawih adalah hadis riwayat Al Bukhari dan Muslim: bahwa Rasulullah Saw keluar dari rumah di malam hari pada malam Ramadhan lalu melaksanakan shalat di masjid dan para sahabatpun ikut beliau, lalu jumlah mereka semakin banyak sehingga Rasulullah Saw tidak keluar di malam keempat. Keesokan paginya beliau bersabda:

خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوْا عَنْهَا

“Aku takut akan diwajibkan ke atas kalian shalat malam, lalu kalian tidak melaksanakannya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Tidak dipungkiri bahwa terawih yang terbaik dilaksanakan dengan dua rakaat-dua rakaat, sebab shalat malam dilaksanakan dua-dua rakaat.

ADAKAH ANJURAN AMALAN TERTENTU DI MALAM NISHFU SYAKBAN?

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam itu dua-dua rakaat”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dan bahwa jumlah rakaat terawih berdasarkan pendapat yang kuat dalam empat mazhab ahlus Sunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) adalah 20 rakaat. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh imam Malik dan imam Al Baihaqi dari Saib bin Yazid bahwa Umar mengumpulkan kaum muslimin pada tahun kedua ia menjadi khalifah yaitu pada bulan Ramadhan tahun 14 hijriah untuk melaksanakan Terawih sebanyak 20 rakaat dan terus berkelanjutan tanpa ada siapapun yang memungkirinya maka perkara seperti ini dapat dianggap ijmak sahabat dan tabi’in pada masa Umar bin Al Khattab Ra.

Bolehkah melaksanakan terawih empat rakaat sekali salam?

Di dalam kitab Umdatu Al Mufti wa Al Mustafti jilid 1 hal. 169 – 170 Syeikh Jamaluddin Al Ahdal mengatakan: Al Qadhi Husein melarang shalat terawih empat rakaat sekali salam. Begitu pula yang diriwayatkan dalam kitab Al Mathlab Al ‘Ali karya Ibnu Ar Rif’at. Hal ini karena shalat adalah itba’ (mengikut) bukan mengada-adakan yang baru tanpa alasan dan dalil. Imam An Nawawi mengatakan: Terawih mirip dengan shalat Fardhu sebab dilaksanakan secara berjamaah, karena itu tidak layak untuk diubah melainkan berdasarkan dalil.

SYAKBAN BULAN PUASA, SELAWAT, PERPINDAHAN QIBLAT DAN PERSIAPAN MENYAMBUT RAMADHAN

Namun Al Qadhi Abu At Thayyib membolehkan terawih empat rakaat sekali salam, bahkan Al Mazjad menguatkan pendapat ini sebab Imam An Nawawi menganggap sah menggabungkan empat rakaat sunat Zhuhur dengan sekali salam baik dengan satu tasyahhud maupun dengan dua tasyahhud.

Tarjih Imam Jamaluddin Al Ahdal:

Sebahagian besar ulama Mutaakhirin dalam mazhab Imam As Syafi’I memilih pendapat Al Qadhi Husein. Namun selayaknya menurut imam Al Ahdal yang kuat adalah pendapat Al Qadhi Abu At Thayyib dan Al Mazjad. Hal ini berdasarkan beberapa dalil:

1.       Perkataan Ibnu Ar Rif’at bahwa shalat adalah itba’ tidak boleh melaksanakan melainkan berdasarkan dalil terbantahkan dengan sahnya shalat witir secara bersambung (tiga rakaat sekali salam), sebagaimana hal ini difahami dari fatwa imam An Nawawi yang membolehkan empat rakaat shalat sunat Zhuhur dengan sekali salam baik dengan satu tasyahhud maupun dengan dua tasyahhud.

2.      Perkataan imam An Nawawi sebelumnya bahwa: Terawih mirip dengan shalat Fardhu sebab dilaksanakan secara berjamaah, karena itu tidak layak untuk diubah melainkan berdasarkan dalil: terbantahkan pula dengan sahnya menyambung witir tiga rakaat sekali salam baik dengan satu kali tasyahhud maupun dengan dua tasyahhud. Witir juga dituntut untuk dilaksanakan secara berjamaah di bulan Ramadhan sama seperti shalat Terawih, maka sebagaimana witir boleh demikian pula seharusnya pada terawih. Terlebih lagi terkait witir terdapat dalil larangan menyerupakan pelaksanaannnya dengan shalat maghrib yaitu dengan melaksanaan witir tiga rakaat sekali salam. Dalil larangan ini diriwayatkan oleh imam Ad Darqutni dan Muhammad bin Nashar secara Marfu’ (langsung kepada Nabi Saw) sebagaimana yang dikatakan oleh imam Zainul Huffazh Al Iraqi walau demikian tidak ada seorangpun dari ulama Syafi’iyah yang membatalkan witir tersebut.

AMALAN DAN DOA TERBAIK KETIKA GEMPA DAN BENCANA ALAM

(Umdatul Al Mufti wa Al Mustafti jilid 1 hal. 169 – 170).

Maka berdasarkan hujjah Imam Al Ahdal boeh melaksanakan terawih empat rakaat dengan sekali salam. Wallahu A’lam

Rujukan Utama:

–          I’anatu At Thalibin ‘Ala Halli Al Fazh Fathi Al Mu’in, karya Imam Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi Al Masyhur bi As Sayyid Al Bakri (987 H), cet. Dar As Salam – Kairo, 1434 H – 2013 M.

–          Umdatu Al Mufti wa Al Mustafti, karya Imam Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Hasan bin Abdul Bari Al Ahdal, cet. Dar Al Minhaj – Jeddah, 1429 H – 2008 M